Showing posts with label Tempat Wisata Museum. Show all posts
Showing posts with label Tempat Wisata Museum. Show all posts

Thursday, June 19, 2008

Museum Wayang


Gedung yang tampak unik dan menarik ini telah beberapa kali mengalami perombakan. Pada awalnya bangunan ini bernama De Oude Hollandsche Kerk ("Gereja Lama Belanda") dan dibangun pertamakali pada tahun 1640. Tahun 1732 diperbaiki dan berganti nama De Nieuwe Hollandse Kerk (Gereja Baru Belanda) hingga tahun 1808 akibat hancur oleh gempa bumi pada tahun yang sama. Di atas tanah bekas reruntuhan inilah dibangun gedung museum wayang dan diresmikan pemakaiannya sebagai museum pada 13 Agustus 1975. Meskipun telah dipugar beberapa bagian gereja lama dan baru masih tampak terlihat dalam bangunan ini.

Bangunan ini resmi jadi Museum Wayang pada tanggal 13 Agustus 1975, diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin. Koleksinya menampilkan lebih dari 3000 wayang yang terdiri dari berbagai wayang dari daerah-daerah di Indonesia maupun luar negeri. Selain itu dipamerkan juga topeng, alat musik wayang, dokumen-dokumen, peta dan foto-foto lama. Wayang diklasifikasikan berdasarkan bahan yang digunakan. Bahan dasar kayu dan diberi pakaian batik aneka warna indah-indah serta dalam tiga dimensi disebut wayang golek. Bahan dasar kulit dari kulit kambing atau kerbau disebut wayang kulit. Semua wayang ini dimainkan oleh seorang yang disebut dalang yang mampu bercerita panjang lebar serta mampu membuat pertunjukan menjadi hidup.

Museum Tekstil


Gedung Museum Tekstil dibangun pada awal abad 19 merupakan rumah warga Perancis yang kemudian di jual kepada konsul Turki yang bernama Abdul Azis Al Mussawi Al Katiri. Tahun 1942 gedung ini dijual kembali kepada Karel Cristian Cruq.
Gedung ini sempat menjadi Markas Besar Barisan Keamanan Rakyat (BKR), saat Jakarta sedang diliputi semangat juang merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Setelah pertempuran fisik gedung ini dihuni oleh Lie Sion Phin (1947) dan menjadi Museum pada tanggal 28 Juni 1978 yang diresmikan oleh Almarhum Tien Soeharto.

Sebagai sebuah museum tekstil terbesar di Indonesia, museum ini mempunyai koleksi-koleksi yang terhitung banyak, yakni sekitar 1.000 buah. Keistimewaan museum ini terletak pada koleksi-koleksinya yang kebanyakan merupakan koleksi tekstil tradisional Indonesia. Koleksi-koleksi tersebut dikelompokkan dalam empat bagian, yakni koleksi kain tenun, koleksi kain batik, koleksi peralatan, dan koleksi campuran. Wisatawan yang berkunjung ke museum ini dapat menyaksikan aneka kain batik bermotif geometris sederhana hingga yang bermotif rumit, seperti batik Yogyakarta, Solo, Pekalongan, Cirebon, Palembang, Madura, dan Riau.
Selain itu, wisatawan juga dapat menyaksikan bendera Keraton Cirebon yang merupakan koleksi pilihan, karena usianya yang paling tua. Bendera itu terbuat dari bahan kapas berupa batik tulis yang berhias kaligrafi Arab. Bendera mirip plakat itu, konon, merupakan peninggalan bersejarah dari tahun 1776 M yang sangat disakralkan di Istana Cirebon. Pada saat itu, bendera tersebut sering dipakai sebagai simbol syiar Islam.
Selain memamerkan koleksi pertekstilan, di museum ini juga terdapat sebuah taman di halaman belakang yang diberi nama Taman Pewarna Alam. Taman seluas 2.000 meter persegi ini berisi pohon-pohon yang dapat digunakan sebagai bahan baku pewarna alam. Penanaman pohon-pohon itu bertujuan mendidik masyarakat agar mengenal dan mengetahui pohon-pohon yang dapat digunakan sebagai bahan baku pewarna alam.
Keistimewaan lainnya yang terdapat di museum ini adalah kursus membatik. Kursus ini dilaksanakan bersamaan dengan hari-hari buka museum. Kursus membuat batik ini dilaksanakan di sebuah bangunan yang terletak di halaman paling belakang Museum Tekstil. Bangunan ini bergaya rumah panggung lebar yang tak mempunyai sekat di dalamnya. Semua bahan bangunannya terbuat dari kayu dengan cat berwarna coklat tua. Di ruangan ini tidak terdapat pendingin ruangan (AC), karena telah terdapat beberapa jendela yang mengelilingi ruangan untuk mengalirkan udara segar.

Museum Seni Rupa dan Keramik


Gedung Museum Seni Rupa dan Keramik ini dibangun tahun 1870. Awalnya dipakai sebagai lembaga peradilan Belanda atau Read Van Justitie, kemudian pada masa pendudukan Jepang dan perjuangan kemerdekaan Indonesia gedung ini digunakan sebagai asrama militer. Selanjutnya pada tahun 1967 digunakan sebagai kantor Walikota Jakarta Barat. Pada tahun 1986 digunakan sebagai kantor Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta hingga tahun 1975. Pada tanggal 20 Agustus 1976 diresmikan sebagai gedung Balai Seni Rupa dan kini berganti nama menjadi Museum Seni Rupa dan Keramik.


Museum ini menyajikan koleksi dari hasil karya seniman-seniman Indonesia sejak kurun waktu 1800-an hingga saat sekarang.
Koleksi Seni Lukis Indonesia dibagi menjadi beberapa ruangan berdasarkan periodisasi yaitu:
Ruang Masa Raden Saleh (karya-karya periode 1880 - 1890)
Ruang Masa Hindia Jelita (karya-karya periode 1920-an)
Ruang Persagi (karya-karya periode 1930-an)
Ruang Masa Pendudukan Jepang (karya-karya periode 1942 - 1945)
Ruang Pendirian Sanggar (karya-karya periode 1945 - 1950)
Ruang Sekitar Kelahiran Akademis Realisme (karya-karya periode 1950-an)
Ruang Seni Rupa Baru Indonesia (karya-karya periode 1960 - sekarang)
Untuk Koleksi seni rupa menampilkan patung-patung sepeti Totem Asmat dan lain-lain.
Sedangkan koleksi keramik menampilkan keramik dari beberapa daerah Indonesia dan seni kreatif kontemporer. Selain itu ada juga koleksi keramik dari mancanegara seperti keramik dari Tiongkok, Thailand, Vietnam, Jepang dan Eropa dari abad 16 sampai dengan awal abad 20.

Museum Nasional Republik Indonesia/Museum Gajah


Museum Nasional Republik Indonesia berada di kawasan Monumen Nasional (Monas) adalah salah gedung peninggalan kolonial Belanda. Pembangunan gedung ini dikerjakan pada tahun 1862 oleh Pemerintahan Hindia Belanda di bawah Gubernur-Jendral Reinier de Klerk sebagai kelanjutan terbentuknya perhimpunan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen yang bertujuan menelaah riset-riset ilmiah di Hindia Belanda. Museum ini diresmikan pada tahun 1868, tapi secara institusi tahun lahir Museum ini adalah 1778, saat pembentukan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen oleh pemerintah Belanda. Museum Nasional dikenal pula sebagai Museum gajah karena adanya arca berbentuk gajah yang diletakkan dibagian depan museum. Patung gajah ini adalah cindera mata dari Raja Chulalongkorn dari Thailand pada 1871.Tetapi pada 28 Mei 1979, namanya resmi menjadi Museum Nasional Republik Indonesia. Kemudian pada 17 Februari 1962, Lembaga Kebudayaan Indonesia yang mengelolanya, menyerahkan Museum kepada pemerintah Republik Indonesia. Sejak itu pengelolaan museum resmi oleh Direktorat Jendral Sejarah dan Arkeologi, di bawah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Tetapi mulai tahun 2005, Museum Nasional berada di bawah pengelolaan Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata. Catatan di website Museum Nasional Republik Indonesia pada tahun 2001 menunjukkan bahwa koleksinya telah mencapai 109.342 buah. Jumlah koleksi itulah yang membuat museum ini dikenal sebagai yang terlengkap di Indonesia. Pada tahun 2006 jumlah koleksinya sudah melebihi 140.000 buah, tapi baru sepertiganya saja yang dapat diperlihatkan kepada khalayak. Museum ini terletak di Jalan Merdeka Barat. Koleksi Museum Nasional Gambar Prasasti dari Singosari, Malang bertarikh tahun 1351 Masehi. Prasasti yang merupakan koleksi Museum yang juga dikenal sebagai Museum Gajah ini, terkenal karena menyebut nama Mada yang kemungkinan berkaitan dengan tokoh Gajah Mada.Gambar Prasasti dari Singosari, Malang bertarikh tahun 1351 Masehi. Prasasti yang merupakan koleksi Museum yang juga dikenal sebagai Museum Gajah ini, terkenal karena menyebut nama Mada yang kemungkinan berkaitan dengan tokoh Gajah Mada. Museum Gajah banyak mengkoleksi benda-benda kuna dari seluruh Nusantara. Antara lain yang termasuk koleksi adalah arca-arca kuna, prasasti, benda-benda kuna lainnya dan barang-barang kerajinan. Koleksi-koleksi tersebut dikategorisasikan ke dalam etnografi, perunggu, prasejarah, keramik, tekstil, numismatik, relik sejarah, dan benda berharga. Sebelum gedung Perpustakaan Nasional RI yang terletak di Jalan Salemba 27, Jakarta Pusat didirikan, koleksi Museum Gajah termasuk naskah-naskah manuskrip kuna. Naskah-naskah tersebut dan koleksi perpustakaan Museum Gajah kini disimpan di Perpustakaan Nasional. Sumber koleksi banyak berasal dari penggalian arkeologis, hibah kolektor sejak masa Hindia Belanda dan pembelian. Koleksi keramik dan koleksi etnografi Indonesia di museum ini terbanyak dan terlengkap di dunia.

Wednesday, June 18, 2008

Museum Bank Indonesia




Bangunan Museum Bank Indonesia di kawasan Kota merupakan gedung bekas De Javasche Bank (DJB). Dahulunya gedung ini adalah sebuah rumah sakit yang dikenal dengan nama Binnen Hospital. ertama kali digunakan oleh DJB sejak 8 April 1828.
Kemudian pada tahun 1910, atau lebih dari 80 tahun setelah menempati gedung tua bekas rumah sakit ini, DJB mulai membangun kembali gedung ini. Perancangan bangunan dikerjakan oleh Biro Arsitek Ed. Cuypers & Hulswit yang kemudian berubah menjadi Architecten & Ingenieursbureau Fermont-Cuypers.
Pembangunan tahap pertama selesai pada tahun 1912 merupakan gedung bergaya arsitektur neoklasik Eropa yang terletak di sepanjang Binneninieuwpoorstraat, kini Jalan Pintu Besar Utara. Pada tahun 1922, pembangunan tahap kedua dimulai dengan menambah beberapa ruangan baru seperti ruang simpan barang berharga (kluis), ruang arsip, ruang pertemuan besar (ruang hijau), rumah penjaga gedung (concierge) dan garasi.
Pembangunan tahap ketiga dilakukan pada tahun 1924, merupakan perluasan dari tahap sebelumnya dengan membangun sebuah unit di bagian belakang sepanjang Kali Besar menggantikan bangunan tua bekas rumah sakit. Selain itu, dibuat pula bangunan di sepanjang Javabankstraat, kini jalan Bank, yang bertemu dengan bangunan tahap pertama di sisi utara. Bangunan baru ini memiliki kaca patri, dengan ragam hias berupa komoditas perdagangan pada masa Hindia Belanda dan dewa-dewi Yunani yang sangat indah.
Tahun 1933, pembangunan tahap keempat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan ruang hasanah yang lebih luas dan ruang efek-efek. Dalam pembangunan kali ini, Biro Arsitek Fermont-Cuypers mendesain beberapa unit tambahan yaitu beberapa kluis baru yang ditempatkan pada perpanjangan bangunan di sisi Binneninieuwpoorstraat. Renovasi juga dilakukan di bagian muka di sisi jalan yang sama dengan gaya yang lebih sederhana.
Pembangunan tahap kelima dilakuka pada tahun 1935 untuk memodernisasi arsitektur tahap pertama. Selain menganut satu pintu keluar-masuk untuk menggantikan dua pintu gerbang sebelumnya. Tahap ini juga menghilangkan kubah yang semula menghiasi atap gedung. Pembangunan ini selesai dan diresmikan pada tanggal 12 Juni 1937. Pembangunan tahap kelima merupakan tahap terakhir dari rangkaian pembangunan gedung DJB. Selama Bank Indonesia menempati bangunan ini, tidak banyak perubahan yang dilakukan.
FasilitasMuseum BI beroperasi secara penuh pada tahun 2008. Museum Bank Indonesia akan menyediakan fasilitas-fasilitas berikut:
Ruang Penitipan Barang, disediakan bagi pengunjung yang hendak menitipkan barang-barangnya selama berkunjung ke Museum Bank Indonesia.
Pusat Informasi Bank Indonesia, dalam ruangan ini pengunjung akan dibanjiri dengan berbagai informasi dari masa lalu hingga masa kini dengan time series yang cukup panjang mengenai sejarah dan peran Bank Indonesia. Informasi tersebut dapat diakses menggunakan perangkat multi media, sehingga bermanfaat untuk keperluan penelitian, pembuatan analisis, dan sebagainya. Di samping informasi yang berasal dari Bank Indonesia, juga dapat diakses informasi dari beberapa sumber lain, dalam dan luar negeri. Disediakan pula fasilitas untuk mencetak (printing) data/informasi dari komputer. Kelengkapan informasi dalam ruangan ini masih ditambah dengan hadirnya BI Virtual Museum, yang akan memberikan informasi tentang Museum Bank Indonesia melalui jaringan internet.
Ruang Auditorium, terletak di lantai 2 Museum Bank Indonesia berdekatan dengan pusat informasi BI (BI Information Center). Ruangan ini digunakan sebagai tempat penyelenggaraan ceramah/seminar/diskusi, baik yang disponsori oleh Bank Indonesia maupun pihak luar.
Kios Buku dan Cenderamata, pengunjung dapat memperoleh berbagai hasil publikasi dan cenderamata yang berkaitan dengan museum, khususnya Museum Bank Indonesia. Snacks juga disediakan di sini.
Banking Expo, fungsi pembinaan bank yang diemban oleh Bank Indonesia, dapat direpresentasikan dalam ruang banking expo. Dalam ruangan ini, bank-bank dapat mempromosikan produk-produk terbarunya, sehingga pengunjung dapat membandingkan keunggulan dari setiap bank. Jadi, para pengunjung tidak hanya disuguhi sejarah perbankan di dalam ruang pamer, tetapi sekaligus dapat bertransaksi secara langsung.
Ruang Serbaguna, salah satu keunggulan Museum Bank Indonesia adalah terdapatnya beberapa ruangan yang dapat digunakan untuk kepentingan pengunjung. Salah satunya adalah ruang serbaguna yang terletak di lantai 1. Ruangan ini dapat digunakan oleh pengunjung untuk berbagai keperluan, seperti resepsi pernikahan, rapat besar, dan lain-lain. Perpaduan pesta modern di tengah-tengah nuansa sejarah akan menjadikan pesta yang diselenggarakan semakin berkesan.
Cafe Museum, merupakan salah satu unsur modernisasi yang dihadirkan oleh Museum Bank Indonesia. Di tempat ini, pengunjung dapat beristirahat sekaligus menikmati makanan dan minuman yang lezat, lengkap dengan bacaan berupa harian dan majalah yang khusus mengupas masalah ekonomi, bisnis, dan perbankan. Ditambah lagi dengan adanya beberapa televisi yang menayangkan program-program yang berkaitan dengan ekonomi, bisnis, dan perbankan, sehingga sangat cocok untuk perjamuan ringan dengan relasi bisnis di siang hari.
Fine Dining Restaurant, berbeda dengan cafe museum yang menawarkan nuansa santai, fine dining restaurant, menawarkan suasana yang lebih eksklusif. Suasana ini akan semakin terasa pada malam hari di area inner court dan outeryard.
Perpustakaan, merupakan salah satu fasilitas unggulan Museum Bank Indonesia. Terdapat dua macam perpustakaan di Museum Bank Indonesia, yaitu: perpustakaan untuk para peneliti museum dan perpustakaan untuk umum. Kedua perpustakaan ini akan menyajikan koleksi lengkap, mulai dari buku-buku referensi, majalah, hingga dokumen-dokumen yang tersimpan dalam perangkat multi media, yang kesemuanya dapat dimanfaatkan oleh pengunjung untuk menambah wawasan, keperluan penelitian, maupun analisis.
Pertokoan, walaupun sarat dengan unsur edukasi, Museum Bank Indonesia juga menyajikan nuansa hiburan, yang diantaranya diwakili dengan jejeran pertokoan yang terletak di lantai 1. Ruang pertokoan ini menjual berbagai macam barang eksklusif, misalnya boutique.
Masjid, Museum Bank Indonesia menyediakan sarana ibadah berupa masjid “Sjafruddin” yang terletak di dalam lingkungan museum.

Monumen Nasional (Monas)


Monumen Nasional atau yang populer disingkat dengan Monas atau Tugu Monas adalah salah satu dari monumen peringatan yang didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajah Belanda.

Monumen Nasional yang terletak di Lapangan Monas, Jakarta Pusat, dibangun pada dekade1960an.
Tugu Peringatan Nasional dibangun di areal seluas 80 hektar. Tugu ini diarsiteki oleh Soedarsono dan Frederich Silaban, dengan konsultan Ir. Rooseno, mulai dibangun Agustus 1959, dan diresmikan 17 Agustus 1961 oleh Presiden RI Soekarno. Monas resmi dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975.
Pembagunan tugu Monas bertujuan mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945, agar terbangkitnya inspirasi dan semangat patriotisme generasi saat ini dan mendatang.
Tugu Monas yang menjulang tinggi dan melambangkan lingga (alu atau anatan) yang penuh dimensi khas budaya bangsa Indonesia. Semua pelataran cawan melambangkan Yoni (lumbung). Alu dan lumbung merupakan alat rumah tangga yang terdapat hampir di setiap rumah penduduk pribumi Indonesia.
Lapangan Monas mengalami lima kali penggantian nama yaitu Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, dan Taman Monas. Di sekeliling tugu terdapat taman, dua buah kolam dan beberapa lapangan terbuka tempat berolahraga. Pada hari-hari libur, Minggu atau libur sekolah banyak masyarakat yang berkunjung ke sini.

Tugu itu berdiri tegak, dengan puncak seperti lidah api berlapis emas. Semua orang pasti tahu,itulah Monumen Nasional, disingkat Monas. Monas mulai dibangun pada tahun 1959 untuk mengenang perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajah. Presiden Sukarno meresmikannya pada 17 Agustus 1961. Tapi, baru dibuka untuk umum pada 12 Juli 1975.
Tugu obeliks berbentuk lingga yoni ini dibuat dari marmer, bertinggi 137 meter. Lingga yoni adalah simbol kesuburan masyarakat Indonesia kuno. Ia melambangkan alu dan lesung. Ia juga lambang laki-laki perempuan. Arsiteknya adalah F Silaban dan Soedarsono dengan konsultan Rooseno.
Nyala api di puncak yang berdiameter 6 meter dibuat dari perunggu berberat 14,5 ton, dilapisi emas yang didatangkan dari Cikotok seberat 35 kg. Lidah api itu melambangkan semangat yang tak pernah padam melawan penjajah. Cawan pelataran di puncak bawah lidah api, berjarak 17 meter, berukuran 11×11 meter, mampu memuat 50 orang.
Di bagian bawah terdapat cawan yang tingginya 17 meter diukur dari lantai dasar dan 8 meter dari lantai museum. Ukuran cawan 45×45 meter. Ini dimaksudkan sebagai catatan hari kemerdekaan, 17-8-45.
Monas dibangun di kawasan seluas 80 hektare di Merdeka Square. Di sebelah utara dibatasi oleh Jl Medan Merdeka Utara, di sebelah timur oleh Jl Medan Merdeka Timur, di selatan oleh Jl Medan Merdeka Selatan, di barat oleh Jl Medan Merdeka Barat. Di sini banyak kantor pemerintah.

Museum Gedung Joang 45


Gedung Joang '45 atau Museum Joang '45 adalah salah satu museum yang berada di Jakarta. Saat ini pengelolaannya dilaksanakan oleh Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Provinsi DKI Jakarta. Museum ini terletak di Jalan Menteng Raya 31, Kelurahan Kebon Sirih, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat. Museum ini diresmikan pada tahun 1974 oleh Presiden Soeharto, setelah dilakukan direnovasi.

Koleksinya terdiri dari foto-foto dokumentasi berbagai peristiwa bersejarah yang berasal dari masa tahun 1944-1949, seperti peristiwa Rapat Raksasa di lapangan Ikada, Bandung Lautan Api, dan pertempuran 10 November di Surabaya.
Selain itu Museum Joang’45 memiliki koleksi patung dada para pahlawan masa Pergerakan Kemerdekaan berjumlah 17 buah, juga terdapat koleksi lukisan yang berkaitan dengan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi fisik.
Koleksi utama pada museum ini adalah 2 mobil Proklamator, yaitu mobil kenegaraan yang pernah digunakan oleh Bung Karno dan Bung Hatta terdiri dari Mobil Republik 1 dan Mobil Republik 2.

Museum Fatahillah


Museum Fatahillah. Dibangun tahun 1620, dengan menempati areal seluas 13 ribu meter persegi, Bangunannya bergaya arsitektur kuno abad ke-17 yang terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara.
Dulu, pada jaman VOC, gedung ini bernama Stadhuis atau Stadhuisplein yang digunakan oleh pemerintahan Belanda sebagai gedung Balaikota, pusat pemerintahan Belanda saat masih berkuasa di Indonesia hingga akhirnya pada tanggal 30 Maret 1974, oleh pemerintah Indonesia, gedung ini kemudian diresmikan sebagai Museum Fatahillah.
Terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 2, Jakarta Barat, museum ini menyimpan banyak hal yang bisa diceritakan dari masa lalu. Mulai dari perjalanan sejarah Jakarta, hasil penggalian arkeologi di kawasan Jakarta, mebel antik dari abad ke-18, keramik, gerabah, hingga batu prasasti. Koleksi-koleksi ini terdapat di berbagai ruang, seperti Ruang Prasejarah Jakarta, Ruang Tarumanegara, Ruang Jayakarta, Ruang Fatahillah, Ruang Sultan Agung, dan Ruang MH Thamrin. Terdapat juga berbagai koleksi tentang kebudayaan Betawi, numismatik, dan becak. Bahkan kini juga diletakkan patung Dewa Hermes (menurut mitologi Yunani, merupakan dewa keberuntungan dan perlindungan bagi kaum pedagang) yang tadinya terletak di perempatan Harmoni dan meriam Si Jagur yang dianggap mempunyai kekuatan magis.
Di masa lalu, selain berfungsi sebagai Balaikota, bangunan ini juga dijadikan sebagai penjara. Terdapat bekas penjara bawah tanah yang dulunya digunakan untuk menjebloskan orang-orang yang melanggar aturan hukum pemerintah Hindia Belanda. Konon, pejuang-pejuang Indonesia seperti Pangeran Diponegoro, pernah menghuni penjara ini. Tanah lapang di depan bangunan Museum Sejarah Jakarta, dikenal dengan nama Taman Fatahillah, merupakan saksi bisu tempat dilaksanakannya eksekusi hukuman gantung bagi ribuan orang Cina yang terlibat dalam pemberontakan melawan Belanda tahun 1740.
Museum Fatahillah hanyalah salah satu di antara makin langkanya bangunan tua dan bersejarah di Ibu Kota, yang menjadi saksi bisu perjuangan rakyat Indonesia terhadap pemerintah Belanda saat itu. Bangunan Museum Fatahillah ini, menorehkan banyak kenangan bagi mereka yang pernah tinggal, maupun yang hanya singgah di Jakarta tempo doeloe. Hingga kini museum ini masih dikunjungi. Tak hanya oleh wisatawan lokal, namun juga oleh wisatawan mancanegara, khususnya wisatawan Eropa.

Museum Bank Mandiri


Museum yang menempati area seluas 10.039 m2 ini pada awalnya adalah gedung Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) atau Factorji Batavia yang merupakan perusahaan dagang milik Belanda yang kemudian berkembang menjadi perusahaan di bidang perbankan.
Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) dinasionalisasi pada tahun 1960 menjadi salah satu gedung kantor Bank Koperasi Tani & Nelayan (BKTN) Urusan Ekspor Impor, kemudian bersamaan dengan lahirnya Bank Ekspor Impor Indonesia (BankExim) pada 31-12-1968, gedung tsb pun beralih menjadi kantor pusat Bank Export import (Bank Exim), hingga akhirnya legal merger Bank Exim bersama Bank Dagang Negara (BDN), Bank Bumi Daya (BBD) dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) ke dalam Bank Mandiri (1999), maka gedung tersebut pun menjadi asset Bank Mandiri.
Gedung Museum Bank Mandiri (ex-Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM)) dirancang oleh 3 orang arsitek belanda yaitu J.J.J de Bruyn dan A.P. Smits dan C. van de Linde, Gedung ini mulai dibangun tahun 1929 dan pada tanggal 14 Januari 1933 dibuka secara resmi Oleh C.J Karel Van Aalst, Presiden NHM ke-10. Gedung ex-NHM ini tampak kokoh dan megah dengan arsitektur Niew Zakelijk atau Art Deco Klasik
Koleksi museum terdiri dari berbagai macam koleksi yang terkait dengan aktifitas perbankan tempo doeloe dan perkembangannya, koleksi yang dimiliki mulai dari perlengkapan Operasional bank, Surat Berharga, Mata Uang Kuno, brandkast, dan lain-lain. Koleksi perlengkapan operasional bank tempo doeloe yang unik, antara lain adalah peti uang, mesin hitung uang mekanik, kalkulator, mesin pembukuan, mesin cetak, alat pres bendel, seal press, safe deposit box maupun aneka surat berharga seperti bilyet deposito, sertikat deposito, cek, obligasi, dan saham. di samping itu, ornamen bangunan, interior dan furniture masih asli.

Museum Bahari


Museum Bahari adalah museum yang menyimpan koleksi yang berhubungan dengan kebaharian dan kenelayanan bangsa Indonesia dari Sabang hingga Merauke.
Koleksi-koleksi yang disimpan terdiri atas berbagai jenis perahu tradisional dengan aneka bentuk, gaya dan ragam hias, hingga kapal zaman VOC. Disajikan pula berbagai model dan miniatur kapal modern dan perlengkapan penunjang kegiatan pelayaran. Di sisi lain ditampilkan koleksi biota laut, data-data jenis dan sebaran ikan di perairan Indonesia dan aneka perlengkapan nelayan dan pelayaran (alat navigasi, jangkar, teropong, model mercusuar dan aneka meriam), tehnologi pembuatan perahu tradisional serta folklor adat istiadat masyarakat nelayan nusantara. Melengkapi penampilan kebaharian Indonesia, museum ini juga menampilkan matra TNI AL, koleksi kartografi, maket Pulau Onrust, tokoh-tokoh maritim nusantara serta perjalanan kapal KPM Batavia - Amsterdam.
Museum ini berlokasi di Jalan Pasar Ikan No. 1 Sunda Kelapa, Jakarta Barat.
Pada masa pendudukan Belanda bangunan yang saat ini dipergunakan untuk museum dulunya adalah gudang yang berfungsi untuk menyimpan, memilih dan mengepak hasil bumi, (diantaranya adalah rempah-rempah) yang merupakan komoditi utama VOC yang sangat alris di pasaran Eropa. Bangunan yang berdiri persis disamping muara sungai [Sungai_Ciliwungciliwung]] ini terdiri dari 2 sisi, sisi barat dikenal dengan sebutan Westzijdsche Pakhuizen atau Gudang Barat (dibangun secara bertahap mulai tahun 1652-1771), sedang yang disisi timur disebut Oostzijdsche Pakhuizen atau Gudang Timur. Gudang barat terdiri dari 4 unit bangunan, dan 3 unit diantaranya yang sekarang digunakan sebagai Museum Bahari.
Pada masa pendudukan Jepang, gedung-gedung ini dipakai sebagai tempat menyimpan barang logistik tentara Jepang. Setelah Indonesia Merdeka, bangunan ini dipakai oleh PLN dan PTT untuk gudang. Tahun 1976 bangunan cagar budaya ini dipugar, dan kemudian pada 7 Juli 1977 diresmikan sebagai Museum Bahari.

Put your banner here for Free! Join Banner Exchange.